Dalam setapak hening aku mulai menapakkan kaki , menyusuri kalbuku yang
semakin lama semakin tenggelam ke dasar jurang kebisuan hati
Diam , diam , diam , memendam segala asa yang takkan pernah tercurah , beranikah kau ? Kurasa tidak !
Menyimpan segenap kerinduan , keresahan , kesenduan yang membara . Angin , kenapa kau tak pernah sampaikan pada(nya) ?
Harusnya buliran rintik hujan takpernah jatuh dalam kelopak bunga .
Lihatlah kini dia kering oleh mentari , hanya mampu bersembunyi . Tak
bermakna !
Adakah disana jiwa lain yang mampu menyampaikan pada(mu) ? Sampai
kapan aku harus menapaki jalan ini tanpa arah dan tujuan ? Ke utara-kah ?
Atau barat , bahkan timur ? Ah , sudahlah
Barangkali aku dan engkau hanya selapis udara kotor dalam karbondioksida yang pekat , semu , dan nyaris tak terlihat

No comments:
Post a Comment